VISI: Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera MISI:Seluruh Keluarga Ikut KB
Minggu, 03 April 2011
Senin, 21 Maret 2011
SEMINAR PROVINSI DALAM RANGKA OPTIMALISASI PEMANFAATAN DATA SDKI 2007 PROYEK MACRO INTERNATINAL-USAID KALIMANTAN TIMUR , 21 MARET 2011
HASIL SEMINAR PROVINSI
DALAM RANGKA OPTIMALISASI PEMANFAATAN DATA SDKI 2007
PROYEK MACRO INTERNATINAL-USAID
KALIMANTAN TIMUR , 21 MARET 2011
Setelah mendengar pemaparan dari pembicara seminar, maka dapat dirumuskan beberapa hal sebagai berikut :
1. Dalam rangka menunjang program Pembangunan berwawasan kependudukan, Program KB merupakan bagian integral dari program kependudukan
2. Guna meningkatkan kualitas SDM, salah satu focus yang harus dilaksanakan adalah adanya keserasian kebijakan kependudukan dan revitaralisasi program KB dengan sasaran TFR 2,1 dan NRR 1 pada tahun 2014.
3. Berdasarkan data SDKI tahun 2011 menggambarkan bahwa kemampuan seorang wanita untuk melahirkan anak, rata-rata 2 - 3 anak.
4. Provinsi Kalimantan Timur mempunyai Laju Pertumbuhan Penduduk 3,81% (hasil Sensus 2010), yang memiliki struktur penduduk yang masih banyak dipenuhi oleh usia dini (0-9 th) dan usia kerja hal ini akan memberikan konsekuensi pada pemerintah daerah dalam hal penyediaan anggaran dan program yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan penduduk kelompok usia tersebut seperti KIA, gizi, pendidikan dan lapangan pekerjaan.
5. Pemakaian alat kontrasepsi di Provinsi Kalimantan Timur dipengaruhi antara lain kualitas pelayanan, kurangnya informasi tentang pemakaian, efek samping, kelebihan dan kekurangan alat kontrasepsi, serta akses masyarakat terhadap tempat pelayanan kontrasepsi.
6. Menyikapi hal tersebut maka perlu dilakukan langkah-langkah :
a. Memperkuat KIE dan advokasi di berbagai tingkatan guna menyamakan persepsi tentang penggarapan Program Kependudukan dan KB ke depannya
b. Refreshing/pelatihan bagi Penyuluh KB/pelaksana operasional program KB di semua tingkatan guna meningkatkan kompetensi petugas dalam pengelolaan Program KB di Lini lapangan
c. Perlu dilakukan rekruitmen Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) agar terpenuhi jumlah 1 PKB untuk 1 desa
d. Peranan kader di lini lapangan makin ditingkatkan baik kader yang menangani kelompok kegiatan maupun UPPKS dengan pemberian dana operasional dan penghargaan
e. Melibatkan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat, agar mereka mau dan mampu ikut mensukseskan penggarapan Program KB di wilayahnya
f. Penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang tugas PKB di lapangan (pedoman pelaksanaan tugas, KIE Kit, modul-modul tentang alat kontrasepsi serta hal-hal yang terkait dengan pengelolaan program KB)
g. Penyediaan dana operasional yang memadai dalam penggarapan Program KB di setiap tingkatan
h. Untuk menjaga kelangsungan program maka perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan secara berjenjang dalam pengelolaan program KB
Demikian hasil rumusan ini dibuat, agar dipedomani dalam pengelolaan Program KB di Provinsi Kalimantan Timur
Ttd
Tim Perumus
Minggu, 20 Maret 2011
Diskusi Bulanan PIK Remaja Sehat Anggana (PIK RASEGA) 20 Mar 2011
Sebuah kegiatan positif dalam rangka pembekalan bagi anggota PIK Remaja di Kecamatan Anggana, diselenggarakan DIskusi Bulanan. Peserta adalah PIK SMPN 1 Anggana dan PIK MTs Miftahul Ulum Sungai Mariam. Pemandu Kak Jannah dan Kak Navis.
Rakor Periapan Pemutahiran Data Keluarga Tahun 2011
Dalam rangka pemutahiran data keluarga di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 diselenggarakan rapat koordinasi bagi Petugas Lapangan Keluarga Berencana se Kutai Kartanegara pada tanggal 1 Maret 2011 di Gedung Kembar Kantor Bupati Kutai Kartanegara Tenggarong.
Senin, 31 Januari 2011
PIK KRR Remaja Sehat Anggana, menyelenggarakan penyuluhan bagi pelajar SLTP
PIK KRR itu dari remaja, untuk remaja dan oleh ramaja dalam rangka mewujudkan generasi muda yang sehat dan bertanggung jawab. Lanjutan penyuluhan senin 31 Januari 2011 di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Anggana. Narasumber adalah Kak Navis, Kak Miftah, Kak Rhya dan Kak Puput.
Sabtu, 29 Januari 2011
PIK KRR Remaja Sehat Anggana, menyelenggarakan penyuluhan....
sebuah usaha kecil dalam rangka memberi pembekalan kepada generasi muda tentang permasalahan remaja dewasa ini.... PIK KRR Remaja Sehat Anggana, menyelenggarakan penyuluhan pemantapan program PKBR bagi pelajar SMP dan SMA di Kecamatan Anggana dalam rangka peningkatan pemahaman sikap dan perilaku positif remaja dan hak-hak reproduksi dalam rangka peringatan hari HIV/AIDS Internasional.
Rabu, 08 Desember 2010
Wapres: Penanganan HIV/AIDS Harus Sinergis
Jumat, 3 Desember 2010 | 15:19 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Boediono meminta penanganan HIV/AIDS oleh sejumlah komponen dapat dilakukan secara lebih sinergi seiring meningkatnya kasus penyakit ini dalam beberapa tahun terakhir.
"Saya prihatin dengan tingginya angka pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Kita semua harus mawas diri, mengapa ini bisa terjadi," katanya dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-46 dan Puncak Hari AIDS se-Dunia di Jakarta, Jumat (3/12/2010).
Wapres mengatakan, peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS yang terus terjadi harus menjadi perhatian serius semua pihak, termasuk instansi yang bertanggung jawab terhadap masalah tersebut. Apalagi dalam lima tahun mendatang Indonesia dituntut untuk dapat menuntaskan delapan program sasaran pembangunan milenium (MDG’s).
"Kita harus pikirkan bagaimana kita membalikkan tren peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS ini, dalam empat hingga lima tahun mendatang. Kita harus benar-benar memikirkan, bagaimana menurunkan angka tersebeut, karena ini masalah nasional. Semua bidang kesehatan dan penyakit kita perhatikan dan tangani, tetapi fokus kita adalah HIV/AIDS karena suah menjadi masalah nasional," katanya.
Karena itu, tambah Wapres semua komponen termasuk instansi terkait harus bisa lebih koordinatif dan sinergi dalam penanggulangan HIV/AIDS.
"Kita sering sibuk sendiri-sendiri, sehingga hasilnya minim dan tidak optimal. Masalah kesehatan tidak sekadar menyangkut diagnosis dan memberikan obat, tetapi menyangkut antara lain gaya hidup, lingkungan, pendidikan dan lain-lain," tuturnya.
Boediono menegaskan," Mari kita pikirkan bersama, apa yang bisa kita lakukan untuk menyetop laju peningkatan HIV/AIDS. Kita harus transparan dalam penanganannya sehingga sikap sosial yang diberikan masyarakat tentang apa dan bagaimana HIV/AIDS juga positif,".
Pembelajaran publik
Wapres mengatakan, salah satu upaya menekan angka pengidap HIV/AIDS adalah melalui sosialisasi atau pembelajaran publik yang melibatkan semua instansi terkait.
Sosialisasi dapat dilakukan melalui media massa, dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah dan lainnya mengingat sebagian besar pengidap HIV/AIDS adalah generasi muda.
Pada kesempatan yang sama Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui, sosialisasi tentang apa dan bagaimana HIV/AIDS belum optimal. "Kita harus duduk bersama lagi untuk merumuskan sasaran yang tept dan program untuk mengatasinya," ujarnya.
Menkes mengatakan, sasaran utama kasus AIDS saat ini adalah generasi muda dan pelaku heteroseksual. "Saat ini kita masih kesulitan untuk mensosialisasikan di sekolah-sekolah menengah, karena itu masih akan dirumuskan dengan Kemendiknas, tentu dengan bahasa yang disesuaikan. Yang jelas intinya tentang kesehatan reproduksi," kata Endang.
Untuk pelaku heteroseksual, lanjut dia, pihaknya masih kesulitan untuk mensosialisasikan hubungan seks berisiko yang aman dengan penggunaan kondom. "Masyarakat masih memandang, jika kita mensosialisasikan kondom, dianggap mendukung (seks berisiko), padahal tidak. Kalau bisa yang kita imbau mereka tidak melakukan hubungan seks berisiko," katanya.
Endang mengakui, pandangan negatif masyarakat terhadap penanganan HIV/AIDS menjadi kendala besar yang harus dihadapi. "Selama ini kita hanya menyasar PSK-nya, padahal para pelanggannya juga berisiko menularkan pada keluarganya, istri. Ya kita minta para lelaki, suami untuk lebih bertanggung jawab," katanya.
http://health.kompas.com/read/2010/12/03/1519283/Wapres:.Penanganan.HIV.AIDS.Harus.Sinergis.
Langganan:
Postingan (Atom)


















